Mitos Kain Combed Cotton

Tulisan ini lahir kemarin, beberapa jam menjelang makan siang ketika saya berkesempatan berbincang beberapa menit via chatbox FB, dengan seorang desainer grafis berkwarga-negaraan Jepa... uhuk... Jepara (maaf keselek nasi). Awalnya hanya bertanya-tanya harga produksi, lalu berlanjut ke masalah yang agak dalem dan galaw; mindset, berkenaan dengan masalah persepsi masyarakat tentang jenis kain combed cotton dan posisinya di kasta kualitas (mahal-murah-murahan).

Fakta ini memang sudah lama terdengar, terbukti dan masih berlangsung hingga hari ini. Berbicara masalah kaos, di beberapa wilayah masih ada anggapan bahwa kain 30S yang memang lebih tipis dari 24S atau 20S jadi dianggap murah, bahkan lebih ekstrem: Murahan. Padahal kebenarannya adalah hanya masalah ketebalan, yang biasanya pemilihannya akan disesuaikan menurut fungsi.

Tidak heran jika manajer produksi (sok cool banget yah nama jabatannya hehe..) disini jika diminta merekomendasikan jenis kain oleh klien, selalu mengusulkan 30S, alasannya? karena penyesuaian desainnya, atau karena akan digunakan untuk manggung (misalnya jika kebetulan brandnya akan digunakan anak band), atau karena alasan pragmatik semacam: supaya adem. Lalu dalam beberapa kesempatan malah menyarankan 24S, loh kenapa lagi? lagi-lagi karena fungsi, misalnya karena warna putih dan akan dipakai untuk outbond (outbond kok putih yah? hehe..), dan beberapa akan digunakan wanita, karena khawatir terlalu tipis dan membayang tembus ke balik baju ;), maka diusulkan menggunakan 24S saja. 

Lalu darimana persepsi keliru tadi muncul? hmm.. sulit menjejak-baliknya, tapi saya sendiri untuk beberapa urusan masih punya mindset seperti tadi, mungkin terjadi juga di kawan-kawan pembaca. Seperti kita agak mengeluh saat membeli celana dalam yang bentuknya kecil tapi kok harganya jika dirasiokan dengan kaos yang berukuran besar, sepertinya jatuh kemahalan, padahal kalau mau merenung sedikit, padahal harusnya tidak jadi soal, karena fungsinya memang beda kok.

Atau saat mengeluh ketika membeli nasi kuning yang porsinya sedikit, tapi harganya satu level dengan porsi warteg yang nasinya menyembul, hmm..padahal sarapan sedikit aja dulu bro, kan baru jam 7, nanti jam 8 baru makan pagi saat warteg sudah buka.

Entah bagaimana mulanya, tapi beberapa dari kita dan atau bahkan banyak orang masih memiliki pemikiran seperti tadi, persepsi bagus berarti lebih tebal, lebih banyak, dan lebih-lebih yang lain, masih terpatri di otak.

Pola pikir ini kemudian sangat mungkin terbawa ke lini lain, dalam konteks tulisan ini berarti tentang persepsi tebal atau tipis jenis kain, maka jangan heran jika kebetulan anda yang membaca ini sebagai vendor lalu misuh-misuh sendiri mendapati klien yang komplain kain tipis karena dianggap murahan, padahal anda sudah memilihkan kain 30S terbaik di wilayah anda, atau yang desainer grafis yang kebetulan berperan combo diminta tolong menguruskan produksi untuk klien (yang tadinya hanya klien desain saja), malah berujung barang yang di-reject. Sebaliknya jika anda pernah menjadi klien dan mengeluh karena merasa di"bohongi" vendor gara-gara diberi kain yang tipis, anda mungkin sekarang akan tersenyum dan ingin meminta maaf sekaligus ngasih uang bonus, hehe... ngarep!


Janita Janet, pelantun lagu "Direject"

Faktanya adalah, bisa dikatakan bahwa kain 20S, 24S, 30S, atau 40S berbeda dari segi ketebalan, dan jarang berhubungan dengan kualitas, maksudnya jika satu produsen kain meluncurkan jenis 20S hingga 30S bisa diasumsikan kualitasnya serupa. Jadi kawan-kawan yang berencana memroduksi kaos, kini sekarang anda tahu bahwa ketebalan kain tidak menentukan kualitas, dan sebelum memesan bahkan anda bisa menentukan sendiri kain apa yang ingin anda gunakan, ingat! memilih kain tebal hanya karena merasa yang tipis adalah jelek, sementara anda tahu bahwa yang tipis akan lebih nyaman digunakan, boleh diibaratkan seperti anda memakai jaket bulu angsa di terik matahari siang sambil berapi unggun dan memakan semangkok bakso pedas, non-sense, tidak fungsional, dan membikin sakit perut.

Kemudian untuk kawan-kawan vendor, jangan menyerah untuk terus menerus mengedukasi masyarakat yang belum "terpapar" informasi-informasi seperti ini, sepertinya akan menjadi kebaikan untuk semua pihak, semoga.

Salam gesut, salam keren!

with love,
Janita Janet.
Eh, Ataedun


Komentar

  1. saya newbie dalam hal ini, jadi prinsipnya bahwa yang 30s itu lebih nyaman?

    thanks

    BalasHapus
  2. helo asis, kalo berbicara masalah kenyamanan, itu sesuai selera, dan jika disangkutkan dengan trend di setiap daerah, tidak perlu ada justifikasi apapun untuk setiap jenis kain. Prinsipnya tulisan ini dibuat untuk meluruskan persepsi yang agak keliru saja, persepsi bahwa kain yang lebih tipis berarti murahan harus segera dibuang jauh-jauh.

    BalasHapus

Posting Komentar

Entri Populer