PENGRAJIN SABLON

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang kawan lama tepatnya kawan ketika mengenyam pendidikan dasar (SD), senang sekali rasanya setelah sekian lama tidak bertemu, lalu tiba-tiba berkunjung ke rumah, padahal jarak rumah saya dengan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya saja ya mungkin karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan.


Lama tidak jumpa, rupanya dia sekarang menjadi pemborong di bidang yang masih berhubungan dengan saya, yakni bidang penyedia pakaian, ya namanya pemborong, dia bisa menyediakan apapun selama masih dalam ranah sandang, kalo saya, ya hanya di bidang yang lebih spesifik, sablon dan kaos atau sweater (tetapi kalo ada yang minta selain itu, saya sediakan juga, hehe..).


Dalam perbincangan yang seru, sampailah pada topik yang membahas tentang suka duka dalam melakukan pekerjaannya, tapi ada satu kata yang membuat saya ingin menulis kali ini adalah, ketika dia menyebut seseorang yang bekerja sebagai "kuli" untuk menjahit, sablon dan sebagainya sebagai pengrajin, dan tahu tidak? saya setuju sekali dengan istilah itu, kata pengrajin seperti mengonotasikan makna yang lebih berbobot, bernilai dan lebih dari itu, kata tersebut seperti apresiasi lebih untuk para "kuli" seperti saya.


Sejak saya pertama terjun ke dunia sablon ini, saya punya impian tersendiri untuk tempat kerja, untuk calon karyawan, dan untuk profesi ini pada umumnya. Salah satunya tentang isu "kuli" tadi, bahwa dalam kamus saya sehubungan dengan pekerjaan, yang juga harus menjadi prioritas untuk dipikirkan adalah masalah image/kesan. Hingga saat ini saya tidak pernah berhenti memikirkan kira-kira apa ya yang akan membuat jenis pekerjaan ini bisa dipandang "agak" keren begitu di mata masyarakat kita pada umumnya.


Sebab, ketika saya masih benar-benar awam, yang saya tangkap dari pekerjaan menyablon adalah; kotor, berantakan, tidak higienis, lalu ketika naik level sedikit (waktu saya suka ngedesain untuk pakaian) pengetahuan saya tentang tempat sablon bertambah lagi; rentan terhadap kegiatan BM, dan bajak membajak. Woww, PR besar ya untuk para pekerja di bidang ini. Suka tidak suka ini mungkin disebabkan karena kebiasaan-kebiasaan yang saya tandai dengan warna merah, masyarakat lalu lebih nyaman menyebut kita kuli. 


Saya kurang tahu juga kata kuli itu arti sebenarnya apa, tetapi jika melihat dari sisi konotasi, memang harus diakui kata tersebut seperti representasi dari mentalitas tidak peduli, yang penting dapet uang, peduli amat kebersihan, peduli amat keselamatan kerja, dan saya sangat tidak ingin dipandang seperti itu.


Maka jika mimpi saya ini harus dimulai dari langkah yang paling kecil, mungkin pernyataan bahwa saya setuju dengan kata pengrajin untuk mengganti kata kuli adalah langkah kecil yang saya maksud. Saya akan mulai membangun image dari situ, menularkan kembali mimpi saya ke bekas "kuli" supaya mereka mempunyai mimpi yang sama, mimpi untuk merubah paradigma, bahwa pekerja seperti kita suatu saat akan sangat keren karena berkotor-kotor tetapi tetap menjaga kebersihan, menghasilkan uang yang banyak tanpa harus membajak dan mengambil projek-projek tidak bertanggung jawab, dan bekerja dengan penuh kesadaran dan attitude yang baik.




Bagaimana dengan anda kawan?


Ataedun,
bandung 5 Juli 2011

Komentar

  1. SCREEN PRINTING MANIA jelas beda ya boss hehehhee...

    BalasHapus
  2. HArus beda bos.. harus keren.. kita memang harus mewujudkan mimpi ini bersama-sama..

    BalasHapus
  3. SABLON YANG BIASA DISEBUT DENGAN ISTILAH KEREN "screen printing" (walau belum populer) adalah bentuk kerja / aktifitas yang sama sejajar dengan yang lainnya,,,SETIAP PEKERJAAN KALAU DILAKUKAN DENGAN semnangat PROFESIONALISME yang tinggi... akan sejajar dengan "image" kelas papan atas pekerjaan yang lain,,,,

    salam PROFESIONAL....

    BalasHapus
  4. Artikel yang bagus Kawan...! Semoga sukses!

    BalasHapus
  5. sebut saja "PRINTER" berkesan elegan mang......

    BalasHapus
  6. YUPP,,,WE ARE SCREEN PRINTING ARTIST HAHAHAH,,MAJU TEROSS OM,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Entri Populer