SADIS part 01 - Proses Sablon


Tidak seperti pekerjaan mencetak digital, menyablon sangat dominan berhubungan dengan keterampilan fisik (craftmenship), sekalipun eksekusi mencetak dapat dibantu dengan mesin otomatis misalnya, tetap saja proses pra-cetak seperti separasi warna misalnya dilakukan secara manual (walaupun menggunakan komputer), atau sebut saja mencampur cat untuk menghasilkan warna yang diinginkan, belum lagi menransfer film positif ke screen yang juga disebut mengafdruk, adalah aktifitas-aktifitas fisikal yang saya sendiri belum tahu apa bisa digantikan secara digital. 

Merepotkan? jika anda belum pernah sekalipun terjun ke dalam lingkaran aktifitas-aktifitas ini tentu saja terbayang merepotkan, dan anda benar 100%. Buat saya pribadi saja, sekalipun menyablon adalah aktifitas yang disukai (paling tidak selama 2 tahun terakhir ini), sesekali bisa sangat membuat frustrasi, dalam beberapa kondisi, pekerjaan yang datang berkelanjutan bisa begitu menakutkan (absurd bukan?), itu cuma salah satu ilustrasi yang bisa dijadikan jawaban untuk pertanyaan, kenapa jangan sadis sama pengrajin sablon?

Oke, jadi berikut akan saya uraikan proses menyablon dari hulu hingga hilir (Ini versi terlengkap di tempat kami yah), cekidot:

1. Order
Ini merupakan kejadian menyenangkan, karena kalau ada order berarti ada pekerjaan, kalau ada pekerjaan berarti ada uang yang diolah, dan jika begitu maka akan ada profit (kalau beruntung, hehehe..). Simpel? tidak juga, kadang dari sini bisa dimulai "petualangan", biasanya dimulai dari klien bertanya-tanya seperti: "Bisa ngga order 10 pcs tapi desainnya dua jenis, terus kainnya juga 2 warna, kalo bisa yang 2 tangan panjang, nah warna satu lagi bawahnya agak dipanjangin soalnya buat temen saya yang perutnya buncit" Hmm... penasaran sama step berikutnya? marigeboy.

2. Artwork
Dari sini seharusnya sabloner memulai stepnya, tapi karena saya lebay, proses ini saya simpan di nomer dua deh. Artwork, sudah seharusnya klien yang membawa sendiri, karena kita adalah tukang cetak. Yang biasanya menjadi problem adalah, klien yang memang tidak tahu akan membawa artwork berformat bitmap dengan resolusi yang kecil, saat ditanya file aslinya dibilang tidak punya, lantas artworknya dapat dari mana? Internet jawabnya, hadooh... Logikanya kalau artwork adalah asli berarti ada yang membuatnya kan? betul? jadi pasti ada file asli dari sumbernya (yang membuat artwork). Oke lumayan nih bercerita saja sudah berkeringat begini.

3. Separasi Film
Katakanlah artworknya sudah betul (asli, resolusi besar, atau bahkan formatnya vektor), artwork ini yang kemudian akan diolah menjadi film, jika kebetulan sederhana, seperti permainan font saja, atau gambar blok-blokan, maka persiapan dijadikan filmnya akan lebih mudah, walaupun tetap membutuhkan keterampilan tetapi tidak akan lebih sulit ketimbang artwork berformat bitmap dengan kesulitan gambar semacam monster-monsteran misalnya, atau ilustrasi-ilustrasi bergaya death metal yang lagi hype sekarang, tugas screen printer akan menjadi lebih sulit lagi, bahkan dalam beberapa kondisi, tugas semacam ini akan didelegasikan lagi ke tukang setting film, dan tentu saja membutuhkan biaya. ingat, BIAYA!

Contoh artwork dengan tingkat kesulitan rata-rata, mudah untuk menyiapkan filmnya.
(Salah satu order yang pernah kami kerjakan)


Artwork dengan tingkat kesulitan medium lah, dikatakan mudah ya nggak, dibilang susah juga yah masih tolerable
(Salah satu order yang pernah kami kerjakan)

Nah, ini yang kesulitannya tingkat tinggi. (Gambar hasil copas, kami tidak pernah  mengerjakan artwork ini)
 
4. Print film
Horaay... persiapan filmnya sudah beres, kini tinggal mencetaknya ke kertas kalkir atau plastik astralon, atau plastik transparan khusus untuk keperluan sablon, medianya bisa yang mana saja, tapi yang pasti ada BIAYA. okey. BIAYA. :)

Salah satu media film, dalam gambar ini menggunakan kertas kalkir.

5. Afdruk 
Seperti yang saya bilang pada prolog, mengafdruk adalah proses pentransferan film ke screen. Mula-mula screen dilapisi cairan mmm saya lupa istilah ilmiahnya, tapi mari kita sebut obat afdruk. Keringkan, lalu tempelkan film ke permukaan screen bagian luar, kemudian sinari dengan lampu selama beberapa menit (ini tergantung kualitas meja afdruk), setelah itu baru cuci. Obat afdruk pada screen yang tertempeli bagian hitam pada film akan rontok ketika dicuci dan pori-pori screen nantinya jadi bisa ditembus oleh cat sablon, sedangkan bagian yang sebaliknya akan mengeras dan tidak dapat ditembus cat sablon, begitu lah singkatnya. Rumit? memang...

Proses afdruk, begini susunan lapisan dari atas ke bawah: Screen - Film  - Kaca - Lampu
(Foto diambil dari internet)

6. Persiapan cat
Selagi menunggu hasil afdruknnya kering, bisa sambil menyiapkan cat yang akan digunakan untuk menyablon. Jika warna yang akan digunakan merupakan-warna-warna dasar seperti hitam, kuning, merah, putih, prosesnya bisa tidak terlalu lama, tetapi jika warna yang dibutuhkan adalah warna kuning busuk 30% setengahnya agak kehijau-hijauan t*i kuda, ya lumayan lama tuh, nyari 'e'e kudanya aja bisa lama sekali... dooh... itu jika satu warna, belum lagi jika satu projek membutuhkan 8 warna misalnya, 'e'e kudanya bisa keburu kering tuh. hehehe... RIbet? ya lumayan... tapi iya memang ribet... tidak apa-apa, kami suka kok. (bukan 'e'e kudanya bro)


7. Setting Screen
Jika menggunakan alat bantu semacam carousel, biasanya tidak terlalu memakan waktu, karena selain proses pra-afdruknya sudah disetting terlebih dahulu, pemsangan screen ke alat bantu tidak begitu sulit, berbeda dengan jika menggunakan meja panjang misalnya, terlebih jika masih menggunakan screen kayu, ada proses semacam assembly karena harus memasang kaki-kaki di pinggir screen dan "Letter T" di tengahnya (ini kasuistik ya, maksudnya dengan alat yang sama di tempat lain mungkin bisa berbeda ceritanya). Overall dengan alat apapun ada proses fisikal lagi sebelum kita benar-benar bisa mencetak/menyablon. Lelah? yah tenang saja, kita yang kerja kok...

Carrousel, disini biasa disebut rotari atau mesin laba-laba.
Meja Panjang (dokumentasi Skreen and Sound) grungy banget yah? hehehe...
8. Cetak
Yes, akhirnya sampai juga kita ke proses kunci dan paling krusial; menyablon. Jika anda pernah melihat teman anda menyablon, atau yang sedang bekerja di tempat anda memaklunkan pekerjaan sablon, dan terlihat mudah, silakan coba sendiri, sekalipun tidak sulit, menggesut rakel (alat yang menggunakan tangan untuk menyapukan cat melalui screen supaya tembus dan menempel ke bahan yang disablon) tetap membutuhkan feeling tersendiri, jika belum terbiasa kemungkinannya hanya ada dua; terlalu tebal karena terlalu kencang menekan rakelnya atau tidak keluar sempurna karena terlalu lemah menyapukan catnya, belum lagi efek samping berikutnya, tangan jadi berlumuran tidak karuan dengan cat sablon, tidak sengaja menempel ke kaus kesukaan yang sedang dipakai, di lap-lap malah semakin menyebar, woww...horor... jadi males? Ya sudah biarkan saja kami yang bekerja, anda duduk saja dulu.

Gesut....Gesut...!!!

9. Pasca cetak
Beda jenis cat bisa beda prosesnya, seperti plastisol yang harus dimatangkan dengan suhu 160 derajat celcius, atau cat berbahan dasar air, yang setelah kering biasanya akan well done setelah di hot press dengan panas tertentu.

Owkay dowkay... Ternyata lumayan juga ya langkah yang harus ditempuh agar kain yang tadinya polos bisa terbubuh gambar sesuai pesanan.

Tanpa bermaksud negatif, dengan semua proses panjang tadi para pengrajin sablon masih akan berkutat dengan "kerumitan-kerumitan" berikutnya, cekidot di SADIS bagian keduaa... yeh..yeh...


Komentar

  1. lanjutkeun mang ata...........

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus nih, nambah pengetahuan tentang sablon...bisa kirimi ke email saya ndaa harga mesin sablon otomatis?

      Hapus
  2. muuancaappp mang, elmu pisaaaannn ... lanjuuutt(aksen ariel"noah")

    BalasHapus

Posting Komentar

Entri Populer